KETEGARAN, KUNCI MENGALAHKAN STRATEG MUSUH


(Belajar dari Al-Khabbab bin Arats)
Oleh: Abdurrahman El-Hafid
“Diantara orang-orang mu’min terdapat pahlawan-pahwalan
yang telah menepati janjinya dengan Allah.” 
(QS. Al-Ahzab : 23)
Al-Khabbab bin Arats, seorang  pandai  besi  yang juga lihai membuat baju dan peralatan perang kemudian ia jual di pasar-pasar pinggiran kota Mekah saat itu. Al-Khabbab, satu di antara dua puluh sahabat yang mengakhiri hidupnya dengan jalan kesyahidan adalah sosok yang disebutkan dalam sejarah sebagai seorang Guru Besar Pengorbanan dan Kesabaran. Jadi kalau ada satu Fakultas di dunia ini bernama Fakultas Pengorbanan dan Kesabaran, maka Al-Khabbab lah Guru Besarnya pada fakultas tersebut. Mungkin juga mahasiswanya adalah Siti Masithoh, tukang sisir Fir`aun yang direbus di atas tungku yang besar hanya gara-gara ketika sisirnya jatuh, ia mengucapkan nama Allah kemudian fir`aun murka kepadanya. Begitu juga mungkin dengan Bilal bin Rabah, yang walau dikubur hidup-hidup, lisannya masih menyebut, Ahad…Ahad…Ahad..!!!.
Beginilah kalau kita mengingat mereka, para Guru Besar dan mahasiswa di Fakultas Pengorbanan dan Kesabaran. Mereka seolah hadir menghiasi kisah yang menambah khazanah keyakinan kita untuk selalu menghadapi segala sesuatunya dengan sabar dan mengingat Allah.
Marilah kita melihat bagaimana kisah inspirasi yang mengantarkan Al-Khabba menjadi seorang Guru Besar pengorbanan. Al-Khabbab, yang tidak pernah alfa dalam hidupnya menemani Rasulullah dalm berperang. Dia juga yang mengajarkan Fathimah binti Khattab belajar Al-Qur`an. Ia tidak pernah lelah untuk selalu berjuang di jalan Allah, mencinta amal dan merindukan syurga. Jadi, sangatlah wajar pengorbanan Al-Khabbah yang begitu besar dibalas dengan kenikmatan Syurga.
Suatu ketika, karena kecintaannya terhadap Rasulullah, akhirnya Al-Khabbab dibenci oleh para kafir Quraisy. Kebencian mereka mengantarkan Al-Khabbab menjadi seorang yang selalu mendapatkan intimidasi dan siksaan, termasuk pada saat orang-orang kafir menginginkan agar Al-Khabbab dibunuh saja agar dapat menghentikan semangatnya dalam menyebarkan serta mengajarkan Islam. Namun, bukan Al-Khabbab namanya kalau ia mundur dari ancaman, itu berarti kalah.
Suatu ketika, pada saat orang-orang kafir Quraisy itu datang ke rumah Al-Khabbab, kemudian melihat banyak besi-besi yang Al-Khabbab buat untuk baju besi dan peralatan perang, mereka ambil lalu mereka panaskan sampai besi-besi itu memerah dan mengeluarkan hawa panas dan tak terkira. Kemudian orang-orang kafir itu menaruh besi-besi panas ke kaki dan tangan Al-Khabbab, namun Al-Khabbab terus tersenyum dan menahan rasa sakitnya. Melihat ketegaran Al-Khabbab, orang-orang kafir Quraisy itu semakin tak terkira kesalnya bukan main, akhirnya meminta bantuan Ummi Anmar, yang tidak lain adalah tuannya Al-Khabbab. Lalu Ummi Anmar mengambil besi panas itu kemudian dia letakkan di atas kepala tepatnya ubun-ubun Al-Khabbab, seketika Al-Khabbab merasa sangat kesakitan, namun tetap Al-Khabbab beruisaha tenang dan menahan rasa sakitnya agar Ummi Anmar dan para Algojonya tidak tertawa puas kalau melihat Al-Khabbab malah teriak kesakitan. Ia berusaha menahan itu semua dengan kesabaran dan ketegaran yang mengantarkan kepada frustasinya musuh-musuh Al-Khabbab.
Subhanallah, Al-Khabbah mengajarkan kita sekelumit dari kisahnya untuk menjadi seorang yang tegar dan sabar. Mungkin dengan menyimak kisah tersebut seolah Al-Khabbab mengajak kita untuk masuk ke salah satu jurusan di fakultas pengorbanan dan kesabaran untuk menjadi sarjana di bidang pengorbanan dan kesabaran.
Hikmah yang kita bisa ambil adalah bagaimana ternyata ketegaran menjadi sebuah strategi jitu untuk mngalahkan serta menghancurkan musuh – musuh kita atau mereka yang membenci kita. Ketika mereka berusaha membabi buta untuk menjatuhkan kita, maka ketegaran adalah kuncinya. Mereka akan merasa bahwa kita lemah tidak bisa melawan mereka atau membalas fitnah mereka, namun sesungguhnya kita adalah kemenangan yang dibungkus dengan ketegaran. Mereka yang selalu hidupnya diwarnai dengan ketegaran, maka mereka adalah pemenang yang sesugguhnya. Mereka adalah bukan musuh kita, tapi ladang kita untuk beramal. Kalaupun kita memiliki kekurangan dan kekhilafan, sesungguhnya yang mengoreksi kita juga tidak lebih baik dari kita, karena mereka juga manusia biasa.
Bersabarlah, ketegaran akan manyertaimu! Tegarlah, kemenangan akan mnyertaimu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s