Mistik Ala Santri


Yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi berulang dalam waktu yang sama persis. Namun, ada hikmah yang layaknya dapat diambil sebuah `ibroh dari setiap kejadian yang telah berlalu.

Pesantren adalah cita-cita saya sejak duduk di bangku sekolah dasar/madrasah ibtida`iyah. Semenjak itulah saya mulai mencari informasi tentang pondok pesantren. Akhirnya saya menemukan beberapa nama pesantren yang pernah diliput di siaran TV ketika bulan Ramadhan, yah bulan Ramadhan tayangan TV lebih banyak menyiarkan hal-hal yang Islami, termasuk liputan pendidikan di pondok pesantren. Pada saat itulah saya menemukan pondok pesantren Modern Darussalam, Gontor. Pesantren yang membuat saya jatuh cinta untuk menimba ilmu dari Negeri para pecinta ilmu. Jadilah Gontor sebagai cita-cita masa depanku.
Pada akhirnya menjelang kelulusan dari Madrasah Tsanawiyah, saya mengutarakan keinginan untuk meneruskan pendidikan ke Pesantren Gontor. Namun pada saat itu keluarga saya sedang mengalami krisis ekonomi dan tidak mampu untuk membantu niat saya ke pesantren. Namun, hati ini terus bersemangat dan akhirnya saya diajak untuk berkunjung ke daerah Serang, itu perjalanan pertama kalinya.
Takdir berkata laian, niatan untuk ada di kota santri seperti Gontor yang berada di Jawa Timur, akhirnya Allah takdirkan untuk berada di Banten, dari ujung timur ke ujung barat pulau Jawa. Di Seranglah saya menemukan Pondok Pesantren yang konon katanya dipimpin oleh seorang ulama terkemuka yang pernah menjadi Guru Bahasa Arab di Negeri Arab, tetapi ia asli orang Indonesia. Ialah Abah Hasuri Thohir, nama lengkapnya KH.Tb.A.Hasuri Thohir, pimpinan Pondok Pesantren Salafiy Ath-Thohiriyah. Dari sinilah cerita indah menjadi seorang santri dimulai.
1.   Air Mata Perpisahan
Hari pertama yang harusnya keberangkatan saya ke pesantern diantar keluarga layaknya orang lain, tapi saya berangkat hanya sendiri. Keberangkatan saya penuh dengan haru, karena saya tau kalau Ummi tidak sanggup untuk menyewa mobil untuk mengantarkan saya ke Serang. Inilah perjalanan hijrah pertama kali saya mulai merintis kehidupan yang keras. Keharuan saya juga karena pada malam sebelumnya ibu saya menangis karena saya sudah larut malam belum pulang, padahal saya paginya harus berangkat ke Serang. Ibu saya sangat hawatir dicampur kesal. Pada saat itu saya ingin menghabiskan masa-masa perpisahan dengan kawan-kawan yang lama, dalam organisasi, sepak bola dan lain-lain. Tapi ketika itu saya dimarahin habis-habisan oleh ibu saya karena merasa kesal sudah tau cari uang sulit tapi saya malah bandel. Padahal saya bukan bandel, hanya ingin perpisahan dengan teman-teman  saja. Wajar ketika ibu saya menangis dan marah, dan saya menghargai betul. Tapi peristiwa itu benar-benar menjadi peristiwa yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.  Pagi harinya saya menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk berangkat ke Serang dan itulah saat-saat komitmen untuk menuju kesuksesan dimulai, do`a ibu saya yang tulus, beserta keluarga mengantarkan saya  dalam meraih cita-cita tertinggi. Sepajang perjalanan ke Serang, air mata saya terus mengalir tanpa harus menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
Minggu berikutnya keluarga saya baru  bisa datang ke pesantren. Walaupun saya tau kalau ia pinjam uang dari saudara untuk bias dating ke pesantren, apalgi saat itu saya harus juga membayar uang bangunan yang nuggak di MAN 2 Serang. Ya Allah…beginilah mencari ilmu.
2.   Masa-masa yang menentukan
Tibalah saya menjalani hari pertama di pesantren Ath-Thohiriyah Kaloran Serang-Banten. Minggu pertama dilewati dengan penuh suka dan duka, karena itu kali pertama saya merantau. Dan pada minggu pertama akhirnya Keluarga saya berkujung ke pesantern, saya sangat bergembira dan haru. Setelah melewati setengah bulan, saya mulai mengatur hidup di sana, dari mulai keuangan sampai waktu belajrnya di atur dengan ketat.
Saya mulai disibukkan dengan jadwal pesantren dan sekolah. Saya benar-benar bersemangat da;am belajar. Memulai aktivitas keseharian  pukul 3 pagi dengan mandi kemudian qiyamullail, belajar dan shalat shubuh. Setelah shubuh saya mengaji sampai jam setengah 7, langsung beres-beres untuk berangkat ke Sekolah. Jam 7 saya sudah sampai di Sekolah, di MAN 2 Serang. Kemudian saya pulang sekolah tepat pukul 14.00 siang dan tiba di pesantren pukul 14:30. Kemudian istirahat melepas lelah sambil baca-baca buku sampai pukul 15.30 dan langsung mandi terus shalat Ashar berjama`ah. Setelah shalat Ashar saya sudah terbiasa menghafal dan membaca surat Yasin, Al-Mulk dan Al-Waqi`ah sebagai amalan yang didawamkan. Setelah itu saya bersiap-siap dan membuka kitab yang mau dikaji sorenya, tepat pukul 16:30 saya mulai mengaji kitab kuning sampai pukul 17 : 30. Sambil menunggu waktu maghrib saya makan sore terlebih dahulu, kalau senin-kamis yah saya menunggu sambil berbuka. Setelah shalat maghrib saya langsung mengaji samapai waktu Isya, setelah Isya saya mulai lagi mengaji dari pukul 20:00 sampai pukul 21:00 dan istirahat sebentar. Tepat pukul 21:30 saya sudah harus muthola`ah (istilah sntri untuk mempersiapkan bahan bacaan yang akan dikaji) bersama ustadz untuk jadwal pengajian ba`da shubuh keesokan harinya sampai pukul 22:30. Setelah itulah saya baru memulai membuka buku untuk sekolah dan mengerjakan tugas-tugas. Terkadanag samapi larut malam, pernah saya sampai tidur pukul 02.00, dan pukul 03.00 harus sudah beraktivitas kembali.  Yah..begitulah saya sejenak mengingat kembali masa-masa itu.
3.   Ada Cinta di hari jum`at
Pada hari Jum`at biasanya santri di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyah melaksanakn shalat di luar pesantren, maklum lah pesantren salafiy yang fasilitasnya terbatas. Kami memilih di antara dua Masjid terdekat, yaitu Masjid Muhammadiyah, dan Masjid NU, begitulah dulu kami mneyebutnya, karena pengurus Masjidnya yah orang MD dan NU. Hari itu adalah masa-masa awal saya di Pesantren, jadi saya masih ikut budaya santri di sana.
Nah ceritanya waktu itu saya baru pulang shalat Jum`at di Masjid NU, dan setibanya saya di kamar, ko kayaknya kamar ada yang berubah, ruangannya lebih rapih dari yang sebelumya. Saya heran dan merasa bingung apa yang sudah terjadi, padahal waktu saya tinggal kamar saya sedikit acak-acakan. Saya mencoba melupakan kejadian itu, ya sudah saya lanjutkan aktivitas sya. Namun, saya sempat dikejutkan ketika saya membuka kunci lemari saya, saya menemukan ada amplop, saya penasaran untuk membuka amplop tersebut, kemudian saya buka amplopnya, dan ternyata isi suratnya adalah ungkapan hati seseorang untuk saya, kagetnya bukan main, ko bisa yah..
Peristiwa itu saya sembunyikan dari teman-teman saya yang sekamar, anmun akhirnya saya menceritakannya kepada salah seorang senior di pesantren itu, saya berani cerita karena yah saya anggap dia dapat dipercaya. Akhirnya saya ceritakan kejadian yang saya alami, dan anehnya sahabat saya itu tersenyum dan seperti menyimpan sebuah rahasia. Nah..setelah itu ia menceritakan kebiasaan santri di pesantren itu. Ia bilang bahwa biasanya setiap hari jum`at pada saat santriwan berangkat ke Masjid untuk shalat Jum`at, santriwati mengecek takut ada santriwan yang tidak shalat Jum`at, makannya setiap hari Jum`at santriwati diijinkan untuk ke Asrama santriwan. Banyak juga santriwati yang memanfaatkan kesempatan itu, ada yang cari-cari info dimana kamar santriwan pujaan hatinya, dan bagi yang sudah menemukan biasanya dibersihkan kamarnya, ditarh makanan, bahkan ada juga yang mebgirim surat, yah kasusnya seperti saya ini.
Namun banyak juga santriwan yang memanfaatkan kesempatan itu. Ada santriwan yang sebelum shalat Jum`at itu masak atau ngeliwet, yah bahasanya seperti itu ngeliwet. Lalu ia tuliskan di sebuah kertas yang kurang lebih seperti ini redaksinya “Afwan, nanti kalau dah masak nasinya, tolong diangkat yah, piringnya ada di belakang.SyukronJ”. Nah ketika pulang dari Masjid si santriwan mampir sebentar di warung Nasi untuk beli lauk, sampai di kamar Nasi dah matang, sudah dipindah ke piring atau namapan, dan tinggal makan. Hah…waktu mendengar cerita itu saya benar-benar tertawa puas, sampai saya tidak kuat lagi mendengar cerita selanjutnya. Begitulah ada cinta di hari Jum`at.
4.   Liwet oh Liwet!
Ini yang beda, dari sekian banyak pengalaman, pengalaman yang satu ini juga tidak bisa dilupakan, sebab buat santri salafiy aktivitas `nge-liwet` ini teman yangs selalu ada setiap hari. Aktivitas yang menyenangkan, dan memupuk persaudaraan. Kalau istilah inidianya yah “Kabhi Kushe Kabhi Gum” kadang suka, kadang duka, namun tetap bersama.
Saya baru tau kalau ngeliwet itu juga harus menggunakan tekhnik. Sebab kalau tidak memiliki tekhnik, berarti bukan ngeliwet namanya, tapi masak Nasi biasa ja. Ciri-ciri ngeliwet sukses yang di bawah wadah tempat nasinya itu harus ada keraknya, nah itu baru disebut sukses dalam ngeliwet. Kalau jadi nasi semua dan tidak meninggalkan `kerak` berarti gagal. Kerak itu nasi yang agak keras yang sedikit menempel pada bagian wadah untuk memasak.
Ini pengalaman menarik bagi saya, sebab beginilah santri diajarkan untuk mandiri hidup merantau sambil belajar. Walaupun ada unsure ekonomisnya alias ngirit. Kalau beli nasi d warung katanya sih mahal dan Cuma dapat sedikit, tapi kalau bawa beras dari rumah terus ngeliwet, itu lebih irit dan lebih puasss makannya.
Saya juga pernah merasakan kiriman dari orang tua terlambat, dan makan nasi liwet hanya dengan garam, bahkan pernah dengan cabe yang dipetik dari pohon yang ada di pesantren. Pernah juga sarapan menggunakan plastic bekas sambal yang tadi malam, tapi masih ada sisa-sisa sambal yang menempel, akhirnya saya masukkan nasi tersebut ke dalam plastic, dan saya remas-remas. Warna nasi itu sedikit berubah warna menjadi kemerah-merahan, dan jadilah sarapan pagi saat itu. Namun, indah diri ini mengenangya!
5.   Ramadhan di Negeri Santri
Hari-hari terindah di pondok pesantren adalah ketika bulan suci Ramadhan datang. Subhanallah, keharuan akan selalu meresap ke dalam jiwa manakala Ramadhan dating. Yah..itulah yang pernah saya alami ketika Ramadhan dating. Di pesantren akan terasa nilai Ramadhannya, karena lingkungannya sangat mendukung. Suara santri yang sedang tadarus Al-Qur`an, ngaji pasaran santri yang menjadi agenda tahunan, buka puasa bersama, sahur bersama menjadi aktivitas yang menyenagkan saat Ramadhan tiba.
Apalagi ketika sudah mulai mendekati akhir Ramadhan, santri sudah mulai sepi karena libur `Iedul fitri. Hanya tersisa sntri-santri yang rumhnya dekat dari pesantren dan paling jauh dari pesantren, seperti di luar pulau. Disitulah masa-masa terhikmat menjalani Ramadhan. MAsih sangat kental diingitana kalau mengingat masa-masa itu, indah sekali.
Sebelum pulang ke rumah biasanya saya mampir dulu ke Pasar Rau, untuk membeli sarung dan peci untuk shalat `Iedul Fitri. Dan betapa indahnya perpisahan terakhir dengan kawan-kawan dan para ustadz yang masih ada di pesantren, haru dan bersahabat. Ya Allah hamba ingin menikmati masa-masa itu kembali.
6.   Jari Ustadzku masuk mulut
Ini adalah pengalaman yang sangat berpengaruh dalam hidup saya untuk memperbaiki bacaan Al-Qur`an saya. Saat itu saya sedang mengkaji kitab tajwid “Hidayatul Mustafid” yang diajarkan oleh salah seorang Ustadz di Pesantren tempat saya nyantri, namanya Ust.Tufli Jauhari. Ketika itu beliau sedang mengajarkan makhraj huruf, dan pada saat penyebutan huruf `Ha kecil` saya kurang bisa, dan akhirnya saya disuruh maju ke depan, dihadapan puluhan santri saat itu, dan saya disuruh membuka mulut, lalu tangan jari telunjuk Ustadz saya masuk dan menatuhnya tepat di dekat kerongkongan saya, dimana tempat keluar huruf tersebut sambnil sang ustadz berkata “Ning kene keh metune!”. Luar biasa, wajah saya memerah karena di depan puluhan santri diperlakukan demikian. Namun, hati ini terus berdo`a agar meluruskan niat untuk mengkaji ilmu agama. Kejadian itu membuat saya belajar lebih giat, dan akhirnya usaha itu berhasil.
7.   Mistik Ala Santri
Hari itu saya sedang berdua di kamar dengan seorang teman yang lebih tua satu tahun tinggal di pesantren. Ia asli orang Serang, tepatnya doi Ciomas. Saat itu menjelang tengah malam tiba-tiba kami yang sednag mengobrol asyik dikagetkan dengan sikap sahabta saya yang satu itu. Ia menyuruh saya menutup pintu dan mematikan lampu kamar. Keadaan sangat gelap saat itu, dan saya pun dalam keadaan takutnya bukan main. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat saya, ia mulai merintih kedinginan dan suhu badannya mulai terasa panas. Tiba-tiba suaranya berubah menggaung seperti macan dan berbicara pada saya, “saya kakek dari si fulan…” hanya itu yang saya ingat karena saat itu kondisi badan saya benar-benar gak karuan, sulit untuk menggambarkannya. Mencekam dan mengerikan. Kejadian itu kurang lebih sekitar 10 menitan, namun rasnya seperti puluhan tahun di penjara china.Lama sekalai, saya saja ingin cepat-cepat selesai.
Setelah beberapa menit dilewati akhirnya suasana tenang kembali, dan ternyata sahabta saya keesokan harinya sakit. Teman-teman saya yang lain bilang kalau di pesantren banyak juga orang yang nyambet atau memanggil arwah orang yang sudah meninggal. Inillah sepenggal kisah mistik yang saya alami di pesantren. Apalagi konon kabarnya pesantren saya dulu itu adalah sebuah rumah sakit belanda. Jadi hawa mistisnya begitu terasa ketika malam hari datang.
8.   Surat dari sang kakak
Orang yang sedang menuntut ilmu itu sangat banyak ujian dan cobaannya, salah satunya dari kondisi keluarga. Dan itu saya alami ketika kelurga saya sedang ditimpa masalah yang lumayan besar. Siang itu saya mendapatkan kiriman dari keluarga, namun ada yang berbeda, kali ini kiriman tersebut bersama sepucuk surat pendek yang ditulis oleh kakak perempuan saya, atau orang betwai bilang dengan sebitan `mpok`.
Kemudian saya membaca surat tersebut, yang isinya kurang lebih sebgai berikut:
“Teruntuk : Adinda tercinta
Abdul Rohman
di-
Serang
Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Adik, semoga engkau dalam keadaan baik-baik saja nun jauh di sana. Begitu juga kami di rumah. Begitu juga Mpo dan Ummi. Namun, berbeda dengan keadaan Baba, saat ini di rumah Ummi dan Baba selalu ribut, dan kemarin Baba berniat mau menceraikan Ummi. Omang yang sabar dan rajin belajar yah di sana, kami hanya bisa mengharapkan omang.
Kami yang mencintaimu!”
Tidak terasa ketika membaca surat ini air mata mengalir, serasa ingin segera kembali ke rumah dan memeluk mereka, untuk hadir dalam kersamaan menghadapi masalah. Surat inilah yang sampai saat ini selalu menjadi motivasi, sampai sampai saya menempel foto keluarga dibalik lemari kitab. Saya selalu melihatnya sebeleum berangkat mengaji, sekolah dan belajar. Itulah motivasi hidup saya, ingin membahagiakan orang-orang yang saya cintai.
9.   Gatal ‘penyakit santri’
Kalau yang satu ini bukan hanya santri salafiy, santri modern juga sama terkena penyakit ini. Kata orang sih kalau belum pernaha mengalamai penyakit gatal ala santri, itu belum afdhol nyantrinya. Bahkan ada yang ekstrim bilang, itu adalah cirri-ciri santri, jadi kalau gak punyakit gatal yah itu bukannya santri. Padahal mestinya orang yang pesantren yang lebih tau tentang kebersihan dalam agama Islam. Sebenarnya sih ghak ada hubungannya orang pintar di pesantren dengan penyakit gatal-gatal. Ini juga yang harusnya dirubah di kalangan santri. Apa karena gak mau jujur yah kalau memang di pesantren kebersihannya kurang dijaga.
Terlepas dari itu semua, ada pengalaman saya yang menarik tentang penyakit ini. Dulu saya pernah mengalami penyakit gatal-gatal ketika di pesantren. Nah penyakit ini luar biasa dari jenis penyakit gatal, sampai-sampai saya menemukan obat penawarnya di Lampung Selatan. Itu juga dapat info dari rekan saya. Nah dah bertahun-tahun saya mengalami penyakit tersebut, karena kadang-sembuh, terkadang kambuh.
Begitulah santri melewati masa-masa di pesantren ujian demi ujian selalu mewarnai perjalanan santri. Subhanallah bagi para jebolan pesantren ,setidaknya pengalaman-penghlaman di atas juga pernah  dialaminya.
10.     Bahasa Arab VS Bahasa Inggris
Pada saat saya di pesantren, jujur kalau saya sudah jatuh cinta sama yang namanya bahasa Arab, gimana tidak, setiap hari yang dilihat, didengar, dibaca, dikaji yah bahasa Arab. Sampai-sampai dibilang `ngelotok` bahasa Arabnya. Saat itu juga sebenarnya saya ingin sekali menguasai bahasa Inggris, karena memang awalnya kepeingin pesantren di pesantren Modern Gontor, yang bahasa Arab dan Inggrisnya dipelajarinya bersamaan. Namun, di pesantren salafiy seperti Ath-Thohiriyah jangankan dipelajari, malah terkadang masih saja ada yang mengatakan bahasa Inggris itu bahasanya orang kafir. Tapi tidak semua yang berkata demikian.
Akhirnya, kecintaan saya terhadap bahasa Arab sudah diimbangi dengan bahasa Inggris, itu bukan berarti saya tidak setia dengan bahasa Arab, namun untuk menyeimbangkan dan terus menggali banyak ilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s