The Power of Rabithah


Oleh : Abdurrahman Hafid

Allahumma Innaka ta`lam anna haadzhil quluub, qodijtama`at `ala mahabbatik waltaqot `ala too`atik watawahhadat `ala da`watik wata`aahadat `ala nusrotii syarii`atik, fawaaatsiqillahumma roobithotahaa wa-aadim wuddaha wahdihaa subulaha wamla-haa binuurikalladzi laa yakhbuu wasyrah suduuroha bifaidhil iimaani bik wajamiili tawakkauli `alaik wa-ahyihaa bima`rifatik wa-amithaa a`lassyahadati fii sabiilik, innaka ni`mal maula wani`mannashiir.

 

 

Sungguh kedahsyatan Do`a Robithoh yang terlantun dari getaran-getaran bibir para pecinta dakwah menjadi getaran cinta antara anak dan ibunya, antara murid dan gurunya, antara istri dan suaminya, antara mujahid kepada Rabb-Nya.

 

Alangkah indahnya struktur do`a yang juga didawamkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna sebagai senjata pamungkas jama`ah tercinta untuk menjaga keutuhan barisan, kekokohan pasukan dan kekuatan – kekuatan spiritual para pecinta dakwah. Satu kali kaki melangkah ke depan, maka pantang surut untuk mundur ke belakang. Demi nama Al-Islam kita berjuang dengan diiringi nilai ukhuwah dan dibentengi oleh Robithoh.

 

Maka wajarlah ketika ada seseorang yang berada di pinggir-pinggir jalan, di pojok-pojok masjid, di langgar-langgar surau dan di lingkaran-lingkaran kecil yang berisi, kita melihat ada sorot yang berbeda dari mereka, seketika hati ini merasa tenang dan terkadang juga tegang karena ada orang yang kita rasa dia adalah sejama`ah dengan kita, padahal kita belum tau siapa dia. Inilah saudaraku! Sebuah kekuatan do`a robithoh yang sungguh sangat luar biasa sekali, lantunan do`a tersebut mendekatkan kita kepada siapa saja yang berada dalam jalan dakwah yang terjal ini, dan tak heran kalau kita sering merasakan hal demikian, yakinlah itu dari kekuatan sebuah do`a robithoh.

 

Terlepas dari seorang wanita yang terbungkus rapih oleh busana taqwanya, terlepas dari seorang pria yang menjaga lapisan malaikat pada janggutnya, terlepas dari simbol-simbol yang orang anggap asing, terlepas dari segala bencana umur dunia, semua adalah do`a untuk kita yang ingin menjadi lebih baik.

 

Basahi lisan kita dengan untaian Rabithoh sambil membayangkan wajah-wajah saudara-saudara kita, agar hati kita selalu dalam lindungan-Nya. Kita tidak cukup hanya sukses spiritual sendiri saja tanpa ada orang yang menemani kesuksesan spiritual kita. Rasanya tidak lengkap apabila kita hidup sendiri, menang sendiri,makan sendiri, berniaga sendiri, berkata sendiri, berdzikir sendiri, semuanya serba sendiri. Padahal, ada kewajiban kita untuk mengajak orang lain, keluarga, sahabat, kerabat dan saudara kita yang lain untuk sama-sama menikmati indahnya hidup. Maka di sela-sela kita membagkitkan diri kita menuju kesuksesan hidup dalam kehidupan, ada kewajiban kita untuk mendo`akan saudara-saudara kita dalam ikatan keimanan yang didasari oleh kasih sayang dan persaudaraan. Lantunkan do`a Rabithoh ini sebagai hadiah terindaha persaudaraan dan persahabatan kita.

 

Marilah, Anda, saya dan kita semua kirimkan bait-bait do`a ini teruntuk mereka yang telah menorehkan sejarah dalam hidup ini karena kehadiran mereka. Langit boleh berubah warna, tapi persaudaraan tetap sama dan utuh selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kita tidak cukup hanya sukses spiritual sendiri saja tanpa ada orang yang menemani kesuksesan spiritual kita”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s