Meninggalkan Jejak-Jejak Kehidupan


Beginilah episode kehidupan, setiap dari potongan adegan-adegannya melahirkan suatu ceritera yang baru. Setiap keinginan idealnya terjadi sebagai bukti, setiap harapan idealnya terealisasi sebagai saksi, setiap kita memiliki keinginan dan harapan itu yang idealnya terjadi.

Bait-bait kehidupan menyayikan banyak sajak yang tak pernah kita tau maknanya. Kita hanya berharap sajak-sajak itu akan dikenang oleh orang, akan dimaknai oleh orang lain walaupun pembuat sajak itu telah jauh pergi meninggalkan kertas karyanya. Mereka begitu terasa dekat, walau hanya tinggal karya. Namun, itulah hidupnya setelah matinya. Meninggalkan segala nilai yang berisi.

Di balik itu semua ternyata sepenggal kisah anak zaman terkuak dalam sebuah obrolan kecil ala masyarakat kuno. Yang mati boleh mati meninggalkan dunianya, yang lahir boleh hidup menuju dunianya, tapi amalnya tetap ada dalam mati dan lahirnya.

Berikanlah oleh-oleh yang paling berharga, tinggalkanlah warisan yang paling bernilai, sesungguhnya untuk kembali ke sesuatu membutuhkan sesuatu untuk kembalinya, dan untuk meninggalkan sesuatu lebih penting dari apa yang kita tuju. Kita hidup untuk kembali ke Dzat yang maha hidup, dan untuk kembali kepada Allah kita membutuhkan bekal amal shalih sebagai perantara menuju ke-Ridhaan-Nya. Dan amal shalih itu, ada yang dibawa serta ada yang ditinggalkan. Yang dibawa akan terasa di bumi harumnya, yang ditinggalkan akan terasa di langit harumnya.

Inilah makna sesungguhnya dari memaknai kehidupan. Apa yang kita tinggalkan yang dimanfaatkan oleh orang lain akan menjadi tambahan pahala yang mengalir, akan menjadi saksi dan bukti kalau kita pernah meninggalkan jejak di bumi para pencinta. Tapi tidak semua dari kita berhasil meninggalkan jejak-jejak itu di dunia, banyak yang gagal karena niat.

Sesungguhnya, keihklasanlah yang menjadi sarana untuk menabur bunga yang harum dalam kepergian kita nanti. DR. Ali Al-Hammadi, seorang kepala Ad Daqiqoh Al Wahidah Center dan Direktur Creative Thinking Center di Dubay pernah mengatakan : ” Al ikhlash fillah (ikhlas karena Allah swt) dan al isti’anatu billaah (memohon pertolongan kepada Allah swt) itu adalah dua kunci utama yang paling menentukan dalam pengaruh.

Dua kunci inilah penentu bagi jejak – jejak kita di bumi…Apakah kita telah ada dalam bagian keihklasan dan pertolongan itu?

Rawa Bokor Tangerang-Banten (Oct 19, 2008/10:29)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s