Menang Dalam Keramaian, Kalah Dalam Kesepian


Oleh : Abdurrahman Hafid

Banyak Sang pemenang yang menjadi juara di arena terbuka dalam sebuah pertandingan, kompetisi dan kejuaraan. Mereka begitu semangat menunjukan keterampilan dan keahliannya kepada lawannya dan para penonton. Banyak pula yang bangkit meraih kemenangan dengan dukungan para penonton, apalagi dari barisan penonton ada seseorang yang spesial bagi dirinya, seperti keluarga dan sahabat dekatnya yang memberikan semangat. Akhirnya kemenangan itu datang dan diraih..Yah kemenangan pada saat itu, kemenagan dari sebuah cerita kemenangan.

Di sisi lain, Sang juara olimpiade matematika di Atlanta kembali ke Negara asalnya indonesia, lalu sampi di rumah ternyata Ibunda tercintanya telah tiada selama ia berada di Atlanta. Akhirnya sang juara olimpiade Matematika inipun merasakan sedih berkepanjangan…Dan mengalami depresi, dan pada puncaknya di keheningan malam, seorang diri, ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Berakhirlah cerita sang juara dengan tiang gantungan…

Begitupun sejarah keimanan. Tak terhitung jumlahnya mereka yang istiqomah di jalan Dakwah. Dipupuk solidaritasnya dalam sebuah kelompok atau jama’ah. Akhirnya seluruh hidupnya diwaqafkan untuk dakwah. Keimanannya begitu terlihat, kasat mata menerka kalau mereka begitu dalam keyakinan dalam keberagamaannya, sebab mereka begitu aktif dalam aktivits-aktivitas dakwah. Dlam dauroh-dauroh, mereka begitu terlihat khusyu’. Tahajjudnya, dhuhanya, tilawahnya benar-benar menggambarkan sosok pribadi muslim yang ideal. Namun…Itu ritual dalam kelompok, dan berbeda ketika Anda, saya dan kita semua kembali sendiri menjallani aktivita keseharian kita. Akankah ada semangat ruh yang menjadi industri peradaban Islam, hati sudah mulkai kering, jangankan yang sunnah, yang wajibpun dilalikan. Mata tidak lagi terjaga, hati tidak lagi terpelihara, telinga tidak lagi mendengar kebaikan..Kita kalah dari kesepian. Ternyata kita butuh bersama mereka dalam jama’ah. Kirta tidak bisa sendiri, kita butuh spirit untuk spiritual.

Begitupun dengan lidi, kalau ia hanya ada satu batang, maka tidak akan dapat berguna untuk membersihkan apa-apa, namun apabila lidi itu dijadikan satu, maka akan banyak manfaat yang diambil. Begitu juga kita, makhluk yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita, untuk menasehati kita dan untuk menyadarkan kita.

Kita selalu terlihat agak shaleh di depan orang, namun ketika kita sendiri terkadang ke-shalih-an kita tergadaikan. Ingin dilihat oleh orang sebagai ahli ibadah, plagiat ritual ibadah dilakukan, akhirnya kita menjadi budak setan. Bagi kita, kesempurnaan untuk menang dalam kesepian dan menang dalam keramaian, itulah pemenag sejati. (12:34)

Rawa Bokor Tangerang
Sept 02, 2008/ 02 Ramadhan 1428 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s