JILBABER KILLER


Oleh: Abdurrahman Hafid

 

`KILLER` istilah yang lumayan angker yang sering menjadi sebutan anak sekolah bagi gurunya yang galak, kharismatik, dan lain sebagainya. Begitu juga para mahasiswa/i yang menyebutkan istilah itu kepada dosennya yang super tegas, disiplin, boleh juga disebut galak dan berkharisma. Namun, saat ini tak salah kalau penulis memberikan suguhan tentang “Jilbaber Killer”. Sebeleum membacanya lebih lanjut, pasti di antara pembaca ada yang membayangkan kalau Jilbaber Killer itu akhwat yang galak, tegas, disiplin, garang dan….? yah gak jauh beda dengan sebutan kita kepada guru/dosen killer.

Sebuah pengalaman ditulis berdasarkan pengalaman, sebuah cerita ditulis berdasarkan imajinasi dan kenyataan, sebuah kata-kata diucapkan berdasarkan apa yang dikata, sebuah tulisan ditulis sesuai apa yang ditulis, tapi sebuah karya diciptakan berdasrakan apa yang dirasa menjadi sebuah cita rasa. Tulisan ini juga ditulis berdasarkan sebuah pengalaman nyata, yang kalau saya rasa sayang kalau tidak dicurahkan lewat tulisan. Semoga tulisan ini bercita rasa walau sederhana.

Berawal dari sebuah kegiatan jaulah (shilaturrahim/kunjungan) ke rumah salah seorang aktivis dakwah di daerah Rangkas Bitung-Banten. Kami berangkat dari Serang ke Rangkas Bitung menggunakan kereta api kelas ekonomi, karena kami anggap lebih ngirit dan ekonomis, maklum aktivis dakwah!. Perjalanan kami tempuh sekitar kurang lebih 1 jam. Selama di perjalanan, banyak hal yang baru saya temukan, ternyata ada sisi lain di dunia ini yang tidak setiap orang mendapatinya. Pagi hari itu memang menjadi pagi yang cerah, walaupun sesak dengan penumpang dan pedagang, sampai-sampai saya tidak bisa membedakan mana penumpang dan pedagang. Sisi lain dari pusat ekonomi yang berjalan, subhanallah! di atas kereta yang penuh sesak, mereka masih gigih menawarkan barang dagangannya, sesekali mengelap keringatnya.

Sekilas konsentrasi saya terpecah dengan suara seorang ikhwan sambil teriak teriak “HP, ha..pe… saya hilang!”, saya terdiam sejenak dan tak dapat berkata apa-apa, malah menambah deretan kebingungan di dalam hati saya tentang dunia yang keras ini, penuh persaingan sampai harus mencuri. Beberapa menit kemudian, saya alihkan konsentrasi saya kepada para penumpang yang sedang duduk dan berdiri di antara kami, ternyata mata mereka memandang ke arah kami, dan herannya mereka seolah terdiam sejenak secara kompak menyaksikan kami yang baru saja naik ke gerbong kereta itu. Saya terkagum, ternyata mereka memperhatikan 4 orang akhwat yang tidak jauh berada di depan kami. Seketika itu saya berpikir, apakah ada yang salah dengan mereka?atau, apakah mereka berbuat kesalahan? Kenapa yang berjualan, penumpang yang duduk, yang berdiri, seolah melihat sesuatu yang aneh. Akhirnya, saya sadar kalau empat orang akhwat yang berada dekat bersama kami yang membuat mereka merasa ada pemandangan yang berbeda. Jilbab yang panjang, pandangan yang terjaga, pergelangan tangan yang dibalut oleh manset, telapak kaki yang ditutup rapat oleh kaos kaki, itulah yang membuat pagi itu perjalanan di atas kereta terasa berhenti, perekonomian terasa mati.

Sungguh, suasana seperti itu membuat saya semakin yakin, kalau akhwat memang makhluk langka yang ada di muka bumi ini, buktinya, dari beberapa gerbong kereta yang diisi oleh ratusan orang, hanya ada 4 wanita yang dibalut rapih oleh busana ketaqwaan Insya Allah!. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa yang saya dapati, sebuah pengalamn spiritual yang menggugah, menambah khasanah tadabbur kita. Saya takjub kepada antunna semua Yaa Ayyuhal Akhwaat! Pesonamu mengalahkan pesona Cleopatra, karismamu mengalahkan karisma soekarno, kau membantai semua orang dengan penampilanmu mengalahkan adolf Hittler Sang mesin pembunuh massal.

Sejujurnya, banyak yang berpenampilan tertutup layaknya seorang akhwat yang dibalut dengan busana ketaqwaan, namun hanya sekedar busana sebagai mode saja. Tapi, saya meyakini ada aura positif yang mengalir bagi akhwat yang menyesuaikan busana taqwa dengan ketaqwaan dalam dirinya, Allah pasti membedakan kaum wanita yang bertopeng taqwa dengan kaum wanita yang bertopang pada taqwa. Berbahagialah bagi Ukhtie Al-Muslimah, yang terus istiqomah menjadi insan yang lebih baik.

Maafkan bila lisan ini berlebihan menorehkan tinta suci kekaguman penulis terhadap kebesaran ilahi bagi para pecinta dakwah. `Jilbaber Killer` bukan istilah negatif, namun sebaliknya menjadi hal yang positif. Semoga dapat memompa semangat dan terus memperbaiki diri.

(Serang/Monday, 10th of December 2007/14:11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s