Qua Vadis Politik Kampus


Oleh:Abdurrahman Hafid

Di pentas sejarah panggung poltik Indonesia, politik kampus menjadi sebuah keunikan tersendiri bagi sejarah perjalanan politik di Indonesia. Kentalnya budaya-budaya politik di arena nyata politik praktis indonesia sangat mempengaruhi budaya politik yang ada di Kampus. Beginilah adanya, politik eksternal kampus sangat berpengaruh pada politik internal kampus. Bahkan kampus menjadi sasaran empuk untuk menjadi ladang kaderisasi partai politik atau organisasi – organisasi politik di eksternal kampus.

 

Tidak dinafikan lagi sebagai miniatur state kampus menjadikan para penghuninya selayaknya para Negarawan yang piawai, birokrat ulung, bahkan koruptor kelas kakap. Sebagaiminiatur state kampus juga memiliki pemerintahan sendiri di kalangan mahasiswa atau disebut dengan Student Government. Namun sayang, ada satu titik yang belum bisa berjalan secara ideal sebagai sebuah pemerintahan kecil, di kampus tidak memiliki lembaga hukum yang sah untuk menindak pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan para pemain di pemerintahan kampus. Sebagaimana ada di dalam pemerintahan yang sebenarnya yang dikenal dengan trias politica yang terdiri dari lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Di pemerintahan kampus belum ada lembaga yudikatif tersebut, akhirnya ada kepincangan untuk mencapai Good Governance. Itulah gambaran bagaimana politik kampus dan pemerintahannya berjalan dan beraktivitas.

 

Pasca tragedi 21 Mei 1998, ruh kampus dalam membangun perubahan dan menuntaskan agenda reformasi agaknya belum maksimal. Mahasiswa memang sebagai salah satu unsur terpenting dalam agenda perubahan tersebut, itu karena bibit kepentingan politik telah mendarah daging bahkan berakar bagi para aktivis kampus. Lalu mau dibawa ke arah manakah `Qua Vadis` politik kampus?

 

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis untuk politik kampus ke depan, yang sudah tentu ini menjadi tugas kita bersama para pelaku dan pengamat catur perpolitikan di kampus. Yaitu sebagai berikut :

 

  1. Kampus sebagai mesin pencetak para tokoh nasional.

 

Dari kampuslah banyak melahirkan tokoh-tpkoh Nasional, di antara tokoh tersebut yang lahir dari kampus adalah Amien Rais, Akbar Tanjung, Andi Rahmat, Yusri Ihza Mehendra, da banyak lagi nama-nama yang masuk ke dalam deretan para tokoh nasional yang lahir dari kampus.

 

  1. Kampus sebagai wadah pendidikan dan pembelajaran politik.

 

Sudah semestinyalah politik kampus ke depan menjadi bagian penting untuk memperkenalkan serta menciptakan atmosphere politik yang cantik, tidak lagi dijadikan sebagai politik kotor. Diajarkan bagaimana catur perpolitikan itu berjalan, bukan malah dijadikan alat untuk menggerakan kerusakan.

 

 

  1. Kampus sebagai unsur perubahan dan pembangunan negara ke arah yang lebih baik.

 

Sebagaimana fungsi serta peran mahasiswa sebagai Agent Of Change, maka untuk jangka yang cukup panjang mahasiswa perubahan serta pembangunan akan lebih di titik beratkan pada gerakan dan kemandirian orang-orang yang lahir dari kampus, karena mereka bergerak atas dasar pemahaman, bukan taqlid buta walaupun juga banyak yang demikian. Saat ini mahasiswalah yang terus aktif mengontrol berjalnnya pemerintahan dari sekian banyak unsur monitoring yang ada, maka dari sinilah akan lahir perubahan-perubahan yang diharapkan.

 

 

  1. Kampus seagai aset budaya ilmiyah

 

Inilah sebuah titik besar perubahan, budaya ilmiyah. Budaya yang mungkin kita tidak dapatkan di pojok-pojok kampung, di sudut-sudut kota, di pinggir-pinggir trotoar dan di tempat-tempat yang umumnya orang berbicara perut dan pecut. Kita akan dapatiRuh Budaya Ilmiyah ini dari sudut-sudut kampus, dari pojok-pojok diskusi, dari ruang-ruang kelas, dari saung-saung para intelek, dari lisan-lisan para dosen, dari cuap-cuap sang professor. Inilah budidaya yang harus dilestarikan kelangsungannya, agar tidak punah, agar tidak mati dan kosong dari nilai. Kampus akan mewarnai jiwa dan hati para penghuninya berisi ke-ilmiyah-an. Maka merekalah yang dicetak di kampus sebagai generasi ilmiyah yang akan menularkan budaya-budaya tersebut ke seluruh sudut yang ada di dunia ini.

 

 

Itulah beberapa point tentang masa depa kampus sebagai harapan dn keinginan. Agar lebih maksimal untuk mencapai idealitas, maka setiap dari kita insan akademis harus sadar untuk ikut serta dalam menjadikan kampus sebagai mana yang kita harapkan. Terakhir, penulis akan mengutip pemikiran salah seorang tokoh politik nasional yang berpendapat tentang politik yaitu Amien Rais, beliau mengatakan “ Politik yang dijalankan seorang Muslim, sekaligus sebagai alat dakwah, sudah tentu bukanlah politik sekuler, melainkan politik yang penuh komitmen kepada Allah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s